Motto
CERDAS TANGGUH BERPRESTASI
Kamis, 27 Maret 2014
Sabtu, 15 Maret 2014
Gerakan dalam Shalat dan Manfaatnya
Assalamu'alaikum wr wb
sahabat UA ^_^
Semua kita meyakini bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah menjadikan sesuatu itu tanpa ada manfaatnya. Nah, sekarang kita akan membahas manfaat dari gerakan shalat. Allah mewajibkan kita untuk shalat 5 waktu sehari semalam, ternyata di balik gerakan shalat yang selama ini kita kerjakan terdapat kejutan yang luar biasa. Bahkan ilmuwan yang mengadakan penelitian tentang gerakan shalat masuk islam dengan sebab mengetahui manfaat dari gerakan shalat itu sendiri. Hmmm, Subhanallah ya :).
Ini dia manfaat dari gerkan shalat.
Setelah membaca keterangan diatas sepertinya kita tidak perlu riyadhah lagi ni, hehehe...
tapi jangan menjadikan alasan ini untuk menukar kewajiban shalat dengan riyadhah yang memiliki manfaat yang sama ya....
Shalat tetap menjadi salah satu rukun islam yang harus kita laksanakan. Semoga bisa menjadi motivasi buat kita untuk melakukan gerakan shalat yang baik dan benar . ^_^
Wasallamu'alaikum
sahabat UA ^_^
Semua kita meyakini bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah menjadikan sesuatu itu tanpa ada manfaatnya. Nah, sekarang kita akan membahas manfaat dari gerakan shalat. Allah mewajibkan kita untuk shalat 5 waktu sehari semalam, ternyata di balik gerakan shalat yang selama ini kita kerjakan terdapat kejutan yang luar biasa. Bahkan ilmuwan yang mengadakan penelitian tentang gerakan shalat masuk islam dengan sebab mengetahui manfaat dari gerakan shalat itu sendiri. Hmmm, Subhanallah ya :).
Ini dia manfaat dari gerkan shalat.
Setelah membaca keterangan diatas sepertinya kita tidak perlu riyadhah lagi ni, hehehe...
tapi jangan menjadikan alasan ini untuk menukar kewajiban shalat dengan riyadhah yang memiliki manfaat yang sama ya....
Shalat tetap menjadi salah satu rukun islam yang harus kita laksanakan. Semoga bisa menjadi motivasi buat kita untuk melakukan gerakan shalat yang baik dan benar . ^_^
Wasallamu'alaikum
Boleh Bercanda????
Assalamualaikum wr wb
Sahabat UA:)
k bisa dipungkiri, di saat-saat tertentu kita memang membutuhkan suasana rileks dan capek sehabis bekerja. Hal ini tidak dilarang selama tidak berlebihan.
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab,”Sesungguhnya kami hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu meminta maaf, karena engkau telah kafir sesudah beriman…” (Qs. At Taubah: 65-66).
Sahabat UA:)
k bisa dipungkiri, di saat-saat tertentu kita memang membutuhkan suasana rileks dan capek sehabis bekerja. Hal ini tidak dilarang selama tidak berlebihan.
Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad. Sanadnya Shahih)
~Seorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW, dan dia meminta agar Rasulullah SAW membantunya mencari unta untuk memindahkan barangnya. Rasulullah berkata: “Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di seberang sana”.
Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul Beban yang berat. “Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang sekiranya sanggup memikul barang-barang ku ini?”
Rasulullah menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta” Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sanad sahih)
~Seorang perempuan tua bertanya pada Rasulullah: “Ya Utusan Allah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?” Rasulullah menjawab: “Ya Ummi, sesungguhnya di surga tidak ada perempuan tua”.
Perempuan itu menangis mengingat nasibnya, Kemudian Rasulullah mengutip salah satu firman Allah di surat Al Waaqi’ah ayat 35-37 “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (Riwayat At Tirmidzi, hadits hasan)
~Seorang sahabat bernama Zahir, dia agak lemah daya pikirannya. Namun Rasulullah mencintainya, begitu juga Zahir. Zahir ini sering menyendiri menghabiskan hari-harinya di gurun pasir. Sehingga, kata Rasulullah, “Zahir ini adalah lelaki padang pasir, dan kita semua tinggal di kotanya”.
Suatu hari ketika Rasulullah sedang ke pasar, dia melihat Zahir sedang berdiri melihat barang-barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah memeluk Zahir dari belakang dengan erat. Zahir: “Heii……siapa ini?? lepaskan aku!!!”, Zahir memberontak dan menoleh ke belakang, ternyata yang memeluknya Rasulullah. Zahirpun segera menyandarkan tubuhnya dan lebih mengeratkan pelukan Rasulullah. Rasulullah berkata: “Wahai umat manusia, siapa yang mau membeli budak ini??” Zahir: “Ya Rasulullah, aku ini tidak bernilai di pandangan mereka” Rasulullah: “Tapi di pandangan Allah, engkau sungguh bernilai Zahir.
Mau dibeli Allah atau dibeli manusia?” Zahir pun makin mengeratkan tubuhnya dan merasa damai di pelukan Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad dari Anas ra)
~Suatu ketika, Rasulullah SAW dan para sahabat ra sedang ifthor. Hidangan pembuka puasa dengan kurma dan air putih. Dalam suasana hangat itu, Ali bin Abi Tholib ra timbul isengnya. Ali ra mengumpulkan kulit kurma-nya dan diletakkan di tempat kulit kurma Rasulullah saw.
Kemudian Ali ra dengan tersipu-sipu mengatakan kalau Rasulullah SAW sepertinya sangat lapar dengan adanya kulit kurma yang lebih banyak. Rasulullah SAW yang sudah mengetahui keisengan Ali ra segera “membalas” Ali ra dengan mengatakan kalau yang lebih lapar sebenarnya siapa? (antara Rasulullah saw dan Ali ra). Sedangkan tumpukan kurma milik Ali ra sendiri tak bersisa. (HR. Bukhori, dhoif)
(maksudnya Ali ra lebih lapar karena sampai kulitnyapun dimakan.*penulis*)
~Aisyah RA berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, saat itu tubuhku masih ramping. Beliau lalu berkata kepada para sahabat beliau, ”Silakan kalian berjalan duluan!”
Para sahabat pun berjalan duluan semua, kemudian beliau berkata kepadaku, “Marilah kita berlomba.” Aku pun menyambut ajakan beliau dan ternyata aku dapat mendahului beliau dalam berlari.
Beberapa waktu setelah kejadian itu dalam sebuah riwayat disebutkan:”Beliau lama tidak mengajakku bepergian sampai tubuhku gemuk dan aku lupa akan kejadian itu.”
-suatu ketika aku bepergian lagi bersama beliau.
Beliau pun berkata kepada para sahabatnya. “Silakan kalian berjalan duluan.” Para sahabat pun kemudian berjalan lebih dulu. kemudian beliau berkata kepadaku, “Marilah kita berlomba”. Saat itu aku sudah lupa terhadap kemenanganku pada waktu yang lalu dan kini badanku sudah gemuk. Aku berkata, “Bagaimana aku dapat mendahului engkau, wahai Rasulullah, sedangkan keadaanku seperti ini?” Beliau berkata, “Marilah kita mulai.” Aku pun melayani ajakan berlomba dan ternyata beliau mendahului aku. Beliau tertawa seraya berkata, ” Ini untuk menebus kekalahanku dalam lomba yang dulu.” (HR Ahmad dan Abi Dawud)
Dari hadits ini dapat kita lihat bahwa Rasulullah tidak pernah berdusta walaupun dalam keadaan bercanda dan beliaulah orang yang paling lembut hatinya.
Adapun bercanda yang perlu kita hati-hati dan hindari adalah :
1. Bercanda/ bermain-main dengan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala
Orang-orang bermain-main atau mengejek syari’at Allah atau Al Qur’an atau Rasulullah serta sunnah, maka sesungguhnya dia kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman, yang artinya,
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab,”Sesungguhnya kami hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu meminta maaf, karena engkau telah kafir sesudah beriman…” (Qs. At Taubah: 65-66).
Ayat ini turun berkaitan dengan seorang laki-laki yang mengolok-olok dan berdusta dengan mengatakan bahwa Rosulullah dan shahabatnya adalah orang yang paling buncit perutnya, pengecut dan dusta lisannya. Padahal laki-laki ini hanya bermaksud untuk bercanda saja. Namun bercanda dengan mengolok-olok atau mengejek syari’at agama dilarang bahkan dapat menjatuhkan pelakunya pada kekafiran.
2. Berdusta saat bercanda
Ada sebagian orang yang meremehkan dosa dusta dalam hal bercanda dengan alasan hal ini hanya guyon saja untuk mencairkan suasana. Hal ini telah dijawab oleh sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,
“Aku menjamin sebuah taman di tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah Surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun ia bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seorang yag baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud)
Rasulullah juga bercanda, namun tetap jujur serta tidak ditambahi kata-kata dusta. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku juga bercanda, dan aku tidak mengatakan kecuali yang benar.” (HR. At-Thabrani dalam Al-Kabir)
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah seorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Ahmad).
Dusta dalam bercanda bahkan sering ditemui bahkan dijadikan tontonan seperti lawak yang dijadikan sebagai hiburan di televisi dan sepertinya sudah akrab dan tidak lagi disalahkan. Padahal hal tersebut bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.
3. Menakuti-nakuti seorang muslim untuk bercanda
“Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya baik bercanda ataupun bersungguh-sungguh, barangsiapa mengambil tongkat saudaranya hendaklah ia mengembalikan.” (HR. Abu Daud).
4. Melecehkan kelompok tertentu
Ada juga orang yang bercanda dengab mengatakan “Hai si hitam” dengan maksud menjelek-jelekkan penduduk dari daerah tertentu yang asal kulitnya adalah hitam.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan jangan suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim”
(Qs. Al-Hujuraat: 11)
Yang dimaksud dengan “Jangan suka mencela dirimu sendiri”, ialah mencela antara sesama mukmin, sebab orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
5. Menuduh manusia dan berdusta atas mereka
Misalnya seorang bercanda dengan sahabatnya lalu ia mencela, menuduhnya atau mensifatinya dengan perbuatan keji. Seperti seseorang berkata kepada temannya, “Hai anak zina.” Tuduhan ini bisa menyebabkan jatuhnya hukum, karena menuduh ibu dari anak tersebut telah melakukan zina. Sebagai manusia biasa, kadang kala rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bercanda dan bersenda gurau untuk mengambil hati dan membuat mereka gembira. namun canda beliau tidak berlebihan, tetap ada batasannya. bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. begitu pula, meski dalam keadaan bercanda beliau tidak berkata kecuali yang benar. berikut ini beberapa contohnya :
Aisyah radhiyallahu anha berkata "aku belum pernah melihat rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tertawa ter bahak-bahak hingga kelihatan lidahnya. namun beliau hanya tersenyum." (h.r. bukhari, muslim)
Anas radhiyallahu anhu berkata "rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah memanggilnya dengan sebutan 'wahai pemilik dua telinga'." (h.r. ahmad, abu dawud)
Anas bin malik radhiyallahu anhu bercerita, "ada seorang pria dusun bernama zahir bin haram. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat menyukainya, hanya saja tampang pria ini jelek. pada suatu hari, beliau menemui pria ini ketika ia sedang menjual barang dagangannya. tiba-tiba rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memeluk Zahir bin haram sehingga ia tidak dapat melihat beliau. Zahir bin haram pun berkata 'lepaskan aku, siapakah ini ?'. setelah menoleh ia pun mengetahui ternyata yang memeluknya adalah rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. maka pria ini tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada rasulullah. rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lantas berkata "siapakah yang sudi membeli hamba sahaya ini ?", lalu zahid berkata "demi Allah subhanahu wa ta'ala. wahai rasulullah jika demikian, aku tidak akan laku dijual". lalu rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata "justru disisi Allah subhanahu wa ta'ala engkau sangat mahal harganya" (h.r. ahmad)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga sering kali menggoda Aisyah radhiyallahu anha. suatu kali beliau berkata kepadanya, "'aku tau kapan engkau suka kepadaku dan kapan engkau marah kepadaku ?' Aisyah r.a lalu berkata 'darimana engkau tau ?' rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata 'kalau engkau suka kepadaku, engkau akan mengatakan tidak, demi Rabb Muhammad. dan kalau engkau marah kepadaku, engkau akan mengatakan tidak, demi Rabb Ibrahim.' lalu Aisyah berkata 'benar demi Allah subhanahu wa ta'ala tidaklah aku menghindari melainkan namamu saja.'" (muttafaqun alaihi)
abu hurairah radhiyallahu anhu menceritakan "rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan al-hasan bin ali radhiyallahu anhu. ia pun meliat merah lidah rasulullah. lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira." (disarikan dari abu ihsan al-atsari/abu rafif)
diriwayatkan dari anas radhiyallahu anhu, bahwasannya ada seorang lelaki datang kepada rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan berkata "'wahai rasulullah, bawalah aku ?' maka rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata 'kami akan membawamu di atas anak onta'. laki-laki itu lalu berkata 'apa yang bisa aku lakukan dengan anak onta ?' lalu rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata 'bukankah onta yang melahirkan anak onta ?' (h.r. abu dawud, tirmidzi)
anas radhiyallahu anhu mengisahkan ummu sulaim radhiyallahu anha memiliki seorang putera yang bernama abu umair. rasulullah sering bercanda dengannya setiap kali beliau datang. pada suatu hari, beliau datang mengunjunginya untuk bercanda, namun tampaknya anak itu sedang sedih. mereka berkata "'wahai rasulullah, burung peliaran kami yang biasa diajaknya main sudah mati' lantas rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bercanda dengannya, beliau berkata 'wahai abu umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu ?'" (h.r. abu dawud)
Alasan Mengapa Shalat Tidak Khusyu
Assalamualaikum wr wb
Sahabat UA^_^
.jpg)
Sahabat UA^_^
.jpg)
Saya mau cerita sedikit, mengapa dalam shalat kita sering tidak khusyu dalam shalat. ketika kita sedang shalat , setan akan datang untuk menggangu perhatian kita. Akan tetapi, pada saat itu kita tidak sadar bahwa perhatian kita telah teralihkan pada yang lain. Maksudnya, setan melancarkan tipu dayanya, lalu pikiran kita akan terbawa dan kita pun terlena didalamnya. Jadi, apa yang diambil dari diri kita bukanlah suatu yang lintas dalam benak kita, melainkan jawaban dari apa yang terlintas dalam hati dan pikiran kita.
Sesungguhnya shalat merupakan detik-detik yang lebih mendekatkan seorang hamba dengan tuhannya. karena itu, setan ingin merusak kemesraan yang terjalin antara hamba dan Tuhannya. Lalu, ia pun menghampiri kita dengan membawa bisikan tentang sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam hati sekalipun. Sungguh, manusia akan merasakan kesengsaraan jika terus mengikuti bisikan setan.
Dikisahkan, ada seorang datang kepada Abu Hanifah menanyakan tentang hartanya yang disimpan didalam tanah,tetapi ia lupa tempatnya. Ia bertanya kepada Abu Hanifah "Dimana aku bisa menemukan harta itu?". Abu Hanifah menjawab "Aku tidak tahu, tetapi aku bisa memikirkannya untukmu. Apabila malam tiba, lakukan shalat Tahajud sepanjang malam". Lalu, orang itupun pergi meninggalkannya. Setelah shalat Fajar, Tiba-tiba ia datang kepada Abu Hanifah dan berkata kepadanya, "wahai imam, aku telah menemukan harta itu". "bagaimana itu bisa terjadi ?"Tanya Abu Hanifah Lalu, ia menjawab "aku telah melakukan nasehatmu. dan ketika shalat aku teringat posisi harta itu". Maka, Abu Hanifah berkata "Demi Allah, kamu sudah tahu bahwa setan tidak akan pernah membiarkanmu menyempurnakan munajatmu kepada Tuhan".
Dengan demikian, setan itu datang kepada orang tersebut sambil meniupkan bisikan tentang hartanya yang hilang. orang itupun segera mencarinya sebagai bentuk ketaatan kepada setan sampai ia tiba ditempat harta tersebut. Begitulah yang dialami setiap orang yang sedang shalat agar ia tidak bermunajat kepada Tuhannya.
Jalan keluar dari bisikan setan itu sebenarnya mudah. jika ada orang yang beriman didatangi setan, katakanlah, "A'udzu Billahi Min Al-Syaithanirrajim (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)". doa kita pastia akan menghalangi gangguan dan bisikan setan kepada Kita.
Firman Allah swt,
Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan , mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha mengetahui (QS Fushsilat 41:36)
Jumat, 14 Maret 2014
Rapat Kerja Kepengurusan Baru LDF Ulul Albab
Assalamualaikum wr wb^_^
sahabat UA.
Alhamdulilahi Rabbil alamin , puji syukur kepada Allah yang telah memberikan karunia dan hidayah-Nya kepada kita yang telah memberikan nikmat iman dan nikmat islam kepada kita sehingga beruntunglah orang-orang yang mengabdi hanya kepada-Nya. Shalawat serta salam kita sampaikan kepangkuan nabi besar Muhammad SAW, rasul utusan Allah yang membawa risalah, kepada keluarga, para sahabat, dan umatnya yang senantiasa mengikutinya di jalan yang lurus dan sebagai uswatun hasanah bagi kita.
pada hari minggu, 9 maret 2014 dilaksanakan rapatkerja membahas program kerja oleh kepengurusan baru LDF ulul albab periode 2014-2015 oleh semua divisi, yang di persentasi kan oleh masing-masing perwakilan divisi,guna meningkatkan aktivitas dakwah.
Terdapat 5 divisi yang mempresentasikan program kerjanya
1. Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia (PSDM)
2. Bidang Syiar
3. Bidang Media
4. Bidang Dana dan Usaha
5. Bidang Keputrian
Divisi PSDM memprentasekan program kerja
Dalam perjuangan dakwah ini haruslah mempersiapkan amunisi sebelum terjun ke masyarakat luas, perlu pemikiran matang dan mampu seimbang di semua kalangan, ada beberapa persiapan yang harusnya di terapkan dalam diri seorang kader dakwah.
1. Persiapan Ruhiyah
kader dakwah adalah seorang penyeru kalimah Allah yang harus selalu menjalin hubungan yang baik dengan pemiliknya. Ia selalu memakai namaNya dalam seruannya "Allahu Ghoyatuna" (Allah adalah tujuan kami). tentu kader dakwah harus mengenalNya dengan baik. Dia harus tahu apa yang disukaiNya dan apa yang mengundang murkaNya
2. Persiapan Fikriyah
Hati ikhlas tanpa pemahaman, kadang mengacaukan barisan dakwah. persiapan fikriyah menjadi urgen karena korban ghazwul fikri (invasi pemikiran) sudah begitu banyak, dan sungguh musibah besar kalau kader dakwah ikut terlibat arus.
3. Persiapan Syakilah
seorang kader dakwah dituntut memiliki skill yang tinggi untuk mendukung dakwah, agar apapun kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan sesuai tujuan yang ingin di capai.
4. Persiapan Jasadiyah
Persiapan jasadiyah juga merupakan aspek penting pada kader dakwah untuk mendukung aktivitas-aktivitas yang dilakukan.
Allahumma ya Allah, semoga kami semua dapat menjalankan apapun yang diamanah kan kepada kami di dunia ini, sebagai bekal kami di akhirat nanti.
takbir
Allahu akbar.... Allahu Akbar.... Allahu Akbar....
#salamDivisiMediaUA
sahabat UA.
Alhamdulilahi Rabbil alamin , puji syukur kepada Allah yang telah memberikan karunia dan hidayah-Nya kepada kita yang telah memberikan nikmat iman dan nikmat islam kepada kita sehingga beruntunglah orang-orang yang mengabdi hanya kepada-Nya. Shalawat serta salam kita sampaikan kepangkuan nabi besar Muhammad SAW, rasul utusan Allah yang membawa risalah, kepada keluarga, para sahabat, dan umatnya yang senantiasa mengikutinya di jalan yang lurus dan sebagai uswatun hasanah bagi kita.
pada hari minggu, 9 maret 2014 dilaksanakan rapatkerja membahas program kerja oleh kepengurusan baru LDF ulul albab periode 2014-2015 oleh semua divisi, yang di persentasi kan oleh masing-masing perwakilan divisi,guna meningkatkan aktivitas dakwah.
Terdapat 5 divisi yang mempresentasikan program kerjanya
1. Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia (PSDM)
2. Bidang Syiar
3. Bidang Media
4. Bidang Dana dan Usaha
5. Bidang Keputrian
Divisi PSDM memprentasekan program kerja
Dalam perjuangan dakwah ini haruslah mempersiapkan amunisi sebelum terjun ke masyarakat luas, perlu pemikiran matang dan mampu seimbang di semua kalangan, ada beberapa persiapan yang harusnya di terapkan dalam diri seorang kader dakwah.
1. Persiapan Ruhiyah
kader dakwah adalah seorang penyeru kalimah Allah yang harus selalu menjalin hubungan yang baik dengan pemiliknya. Ia selalu memakai namaNya dalam seruannya "Allahu Ghoyatuna" (Allah adalah tujuan kami). tentu kader dakwah harus mengenalNya dengan baik. Dia harus tahu apa yang disukaiNya dan apa yang mengundang murkaNya
2. Persiapan Fikriyah
Hati ikhlas tanpa pemahaman, kadang mengacaukan barisan dakwah. persiapan fikriyah menjadi urgen karena korban ghazwul fikri (invasi pemikiran) sudah begitu banyak, dan sungguh musibah besar kalau kader dakwah ikut terlibat arus.
3. Persiapan Syakilah
seorang kader dakwah dituntut memiliki skill yang tinggi untuk mendukung dakwah, agar apapun kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan sesuai tujuan yang ingin di capai.
4. Persiapan Jasadiyah
Persiapan jasadiyah juga merupakan aspek penting pada kader dakwah untuk mendukung aktivitas-aktivitas yang dilakukan.
Allahumma ya Allah, semoga kami semua dapat menjalankan apapun yang diamanah kan kepada kami di dunia ini, sebagai bekal kami di akhirat nanti.
takbir
Allahu akbar.... Allahu Akbar.... Allahu Akbar....
#salamDivisiMediaUA
Rabu, 12 Maret 2014
Peran Stategis Ilmuawan Muslim
Assalamualaikum wr wb
Sahabat UA^_^

Sejarah peradaban Islam memanglah tidak akan mudah dilupakan. Masa keemasan Islam dan kegemilangannya tidak lain dan tidak bukan, diperoleh karena peran besar ilmuwan-ilmuwan kala masa itu, yang kemudian mengambil posisi strategis dalam menopang masa-masa dakwah Islam di kala itu. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Keemasan dan kegemilangan Peradaban Islam kala itu, menjadikan negeri-negeri Islam dilirik menjadi tempat untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan yang banyak para pelajar dan ilmuwan non-muslim yang kemudian masuk dan menekuni bidang-bidang pengetahuan. Dari sinilah tak sedikit para pelajar dan ilmuwan tersebut kemudian menjadikan Islam sebagai agama yang diyakini kebenarannya.
Dakwah memiliki dinamika sendiri dalam perjalanannya. Perjalanan yang memiliki masa-masa berulang selayaknya rekaman jejak-jejak masa dari pendahulunya yang telah Allah berikan bagi mereka yang secara ikhlas dan ridha terhadap Illahnya untuk melanjutkan perjuangan tersebut dan mempelajari huru-hara di dalamnya. Kadang timbul dan kadang tenggelam, layaknya sebuah kurva sinus yang sebenarnya dapat ditebak kapan akan mendekati puncak dan kapan akan mendekati titik terendahnya.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/09/24/39706/peran-strategis-ilmuwan-muslim-dalam-perjuangan-dakwah/#ixzz2vjVbfZKt

dakwatuna.com - “Tidak akan mengenal lelah rasanya, bagi para pejuang dakwah di medan pertempuran saat ini untuk kemudian menjadi busur-busur panah yang siap melejit dan memberikan kontribusi lebih bagi perjuangan dakwah di mana pun.
Dakwah merupakan sebuah perjalanan panjang yang memiliki jalan berliku dan mungkin medan terjal yang harus dilalui oleh setiap pelakunya. Namun sekali lagi, jalan berliku dan panjang ini merupakan sebuah pilihan yang ada di tangan masing-masing pelaku dalam jalan dakwah ini. Jalan dakwah bukanlah khusus hanya dimiliki oleh mereka para ustadz, para muballigh, para da’i, ataupun para murabbi-murabbiyah kita. Namun kita pun harus menyadari bahwa jalan dakwah ini pun menjadi sebuah jalan yang akan sangat menyenangkan ketika mereka, para ilmuwan muslim untuk bergabung dan membina umat dengan segala kemampuan dan kecerdasan yang sudah Allah berikan bagi mereka.
Sebuah peranan strategis bagi para ilmuwan muslim menjadi hal yang patut untuk dipertimbangkan dan menjadi sebuah trigger yang mampu memacu dan mendukung perkembangan dakwah. Jika dilihat kembali dari urgensinya, dakwah masa kini tidak lagi sebatas berada di langgar-langgar, mushalla maupun masjid-masjid besar. Lebih dari itu, dakwah mulai merambah pada masa modernitas yang mana tempat-tempat di luar itu semua dapat dijangkau dengan dakwah itu sendiri. Kemudian muncul sebuah pertanyaan, bagaimana ilmuwan Muslim mengambil peran sebagai seorang strategic role maker dalam perjuangan dakwah yang sudah lama dirintis sejak zaman para Anbiya’, lalu kemudian para sahabat?
Belajar dari Sejarah Perkembangan Pengetahuan di Masa Silam
Sejarah peradaban Islam memanglah tidak akan mudah dilupakan. Masa keemasan Islam dan kegemilangannya tidak lain dan tidak bukan, diperoleh karena peran besar ilmuwan-ilmuwan kala masa itu, yang kemudian mengambil posisi strategis dalam menopang masa-masa dakwah Islam di kala itu. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Keemasan dan kegemilangan Peradaban Islam kala itu, menjadikan negeri-negeri Islam dilirik menjadi tempat untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan yang banyak para pelajar dan ilmuwan non-muslim yang kemudian masuk dan menekuni bidang-bidang pengetahuan. Dari sinilah tak sedikit para pelajar dan ilmuwan tersebut kemudian menjadikan Islam sebagai agama yang diyakini kebenarannya.
Sebut sajalah, Ibnu Sina, yang di dunia Barat dikenal sebagai Avicenna, seorang Ilmuwan Muslim asal Persia, yang dikenal sebagai Bapak Pengobatan Modern, Bapak Kedokteran, sekaligus ahli dalam Bidang Botani, mampu memberikan kontribusi luar biasa yang sampai saat ini karyanya masih dapat dirasakan kebermanfaatannya. Belajar dari sebuah sejarah peradaban Islam dan perkembangan Ilmu Pengetahuan beserta Ilmuwan Muslim di dalamnya, seyogianya menjadikan sebuah motivasi tersendiri bagi setiap ilmuwan di mana pun mereka berada untuk kembali menunjukkan pribadi-pribadi yang sudah lama tertarbiyahkan untuk kemudian menyumbangkan ide-ide ataupun gagasan dalam membangun peradaban bangsanya guna mendapatkan kebermanfaatan dan menunjukkan perjuangan dakwah dalam bidang keilmuan.
Ilmuwan sebagai penggerak dinamika ilmu pengetahuan memiliki peranan penting dan strategis yang berdekatan langsung dengan masyarakat. Kondisi seperti ini menjadi peluang besar bagi mereka para kader dakwah sekaligus seorang ilmuwan untuk mengambil langkah strategis dan taktis untuk memberikan kepemahaman mengenai Islam yang Kaffah, menjelaskan fenomena yang terjadi berdasarkan pemahaman ilmu spesifikasinya, yang dikaitkan dengan penjelasan Al-Quran dan As-Sunnah, serta melakukan proses pembinaan (tarbiyah) bagi masyarakat layaknya para sahabat-sahabat Rasulullah SAW.
Peran Strategis Ilmuwan dengan Kondisi Kekinian Dakwah
Dakwah memiliki dinamika sendiri dalam perjalanannya. Perjalanan yang memiliki masa-masa berulang selayaknya rekaman jejak-jejak masa dari pendahulunya yang telah Allah berikan bagi mereka yang secara ikhlas dan ridha terhadap Illahnya untuk melanjutkan perjuangan tersebut dan mempelajari huru-hara di dalamnya. Kadang timbul dan kadang tenggelam, layaknya sebuah kurva sinus yang sebenarnya dapat ditebak kapan akan mendekati puncak dan kapan akan mendekati titik terendahnya.
Dalam sebuah buku yang ditulis Ustadz Yusuf Al-Qaradhawi, tertulis sebuah nukilan yang luar biasa membuat hati ini sedikit berdegup,
“Manusia menjadi lemah bila menyendiri dan menjadi kuat dengan jamaahnya. Jamaah merupakan kekuatan untuk menegakkan kebaikan dan ketaatan serta merupakan perisai terhadap kejahatan dan maksiat”
Maka pada masa-masa seperti saat inilah, para ilmuwan selaku penggerak motor-motor dinamika pengetahuan untuk kemudian saling berkumpul dan mencoba kembali menata peradaban yang pada dasarnya telah ditata oleh para ilmuwan-ilmuwan terdahulu yang telah menjadi sebuah mozaik tersendiri dalam mengembangkan dakwah di bidang ilmu pengetahuannya masing-masing. Keberjamaahan yang akan menyatukan dan menguatkan fondasi dakwah di bidang keilmuan dan menjadikan sebuah mozaik yang memberikan warna tersendiri di era gegap gempitanya usaha untuk menjadikan pembinaan terhadap masyarakat sebagai jalan dakwah yang harus terus dikaryakan dan dituai keberhasilannya dengan mengharap ridha-Nya.
Peran-peran strategis para ilmuwan dapat terlihat ketika fungsi pembinaan (tarbiyah) dan penguatan aqidah dapat menjadi dua modal penting dalam membangun kepemahaman masyarakat guna memasuki Islam secara Kaffah. Para ilmuwan dapat menjadi sumber yang nantinya mampu menjembatani pemahaman ayat-ayat kauniyah dengan ayat-ayat kauliyah sehingga sejatinya fikrah manusia dikembalikan kepada pengeesaan hanya kepada Allah SWT semata, tanpa kemudian ada pertentangan kembali di dalamnya. Maka, mulai saat ini tidaklah ada rasa takut bagi kita, para ilmuwan untuk kemudian menggunakan identitas kemusliman untuk terus menegakkan kalimat Allah dalam setiap pembinaan yang diikhtiarkan.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/09/24/39706/peran-strategis-ilmuwan-muslim-dalam-perjuangan-dakwah/#ixzz2vjVbfZKt
Langganan:
Postingan (Atom)


